Gula Rafinasi Masih Mendominasi di Pasar Berau, Bulog Lakukan Edukasi : Putih Belum Tentu Sehat
POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Kilau putih bersih gula rafinasi diakui sampai saat ini masih menjadi daya tarik utama bagi masyarakat Kabupaten Berau. Di pasar tradisional hingga ritel modern, gula jenis ini terus mendominasi pilihan konsumen, meski di balik tampilannya tersimpan potensi risiko kesehatan yang kerap diabaikan.
Banyak warga masih
meyakini bahwa gula dengan warna paling putih adalah yang terbaik. Padahal,
warna tersebut bukan berasal dari proses alami, melainkan hasil pengolahan
lanjutan yang membedakan gula rafinasi dari gula tebu murni.
Asisten Manajer
Operasional Bulog Berau, Ade Anggoro, menyebut dominasi gula rafinasi di
pasaran Berau sudah berlangsung cukup lama. Ia menilai, minimnya pemahaman
masyarakat menjadi salah satu penyebab utama.
“Kalau kita lihat di
pasaran Berau, yang beredar kebanyakan gula rafinasi. Itu jelas terlihat dari
warnanya yang putih bersih. Padahal itu bukan gula murni,” ujarnya.
Ade menjelaskan, gula
tebu murni dihasilkan dari tebu 100 persen tanpa tambahan zat kimia dalam
proses pemurniannya. Sementara gula rafinasi harus melalui tahapan pengolahan
lanjutan untuk menghasilkan warna putih cerah yang secara visual lebih menarik.
Ironisnya, dari sisi
harga, gula rafinasi justru lebih mahal dibanding gula tebu murni. Namun faktor
tersebut tidak memengaruhi minat beli masyarakat.
“Selisih harganya
tidak jauh, bahkan rafinasi lebih mahal. Tapi tetap dipilih karena warnanya
lebih putih. Jadi yang dilihat itu tampilan, bukan kandungannya,” jelasnya.
Menurut Ade,
kebiasaan ini menunjukkan pola konsumsi yang masih mengedepankan persepsi
visual, bukan nilai kesehatan. Padahal dari sisi penggunaan, gula tebu murni
dinilai lebih efisien.
“Kalau gula tebu
murni, satu sendok saja sudah manis. Gula rafinasi bisa dua sendok baru terasa.
Tapi itu jarang dipikirkan. Yang penting kelihatan bersih dan menarik,”
ungkapnya.
Ia menilai, konsumen
kerap terjebak pada kesan “lebih putih berarti lebih baik”, tanpa
mempertimbangkan dampak jangka panjang bagi kesehatan. “Orang itu tersugesti
oleh warna. Putih dianggap lebih sehat, padahal belum tentu,” katanya.
Bulog Berau sendiri
telah berupaya memberikan edukasi kepada masyarakat dan distributor, terutama
melalui kegiatan pasar murah. Dalam kesempatan tersebut, Bulog menjelaskan
perbedaan gula rafinasi dan gula tebu murni, mulai dari proses produksi hingga
potensi dampak kesehatannya.
“Kami sudah sampaikan
langsung, baik ke distributor maupun masyarakat. Tapi pada akhirnya, pilihan
tetap di tangan konsumen,” ujarnya.
Ke depan, Bulog berharap masyarakat Berau lebih bijak dalam memilih bahan pangan. Menurut Ade, kualitas pangan seharusnya tidak diukur dari tampilan luar semata, melainkan dari manfaat dan keamanannya bagi tubuh.
“Jangan sampai hanya
karena warnanya putih, kita mengabaikan kesehatan,” pungkasnya. (sep/FN)